Selasa, 16 Oktober 2012

Bila Politikus Menjadi Pemain Sepak Bola


Sepak Bola, Bola dan Kehidupan

1.Bila terkena kartu merah.
Jawabannya:"bagi saya tidak apa-apa bila diberi kartu merah, asal sesuai dengan peraturan yang ada, silahkan ditinjau kembali".

2. Bila kalah 1-7.
"Kita telah berhasil memperkecil kekalahan dan telah berhasil mencetak gol ke gawang lawan."

3. Bila mendapat kartu kuning.
"Pasti ada pihak ketiga mempengaruhi wasit yang ingin mendiskreditkan kita".

4. Bila dijegal lawan.
"Mereka tidak suka kepada kami dan berusaha dengan segala cara untuk mencederai kami".

5.Bila menjegal lawan.
"Tindakan ini perlu diambil guna melindungi keamanaan pemain-pemain kami pada umumnya dan pada penjaga gawang kami khususnya".

6.Bila tertangkap basah memukul pemain lawan.
"Saya tidak bermaksud melukainya, saya hanya mencoba bercanda dengannya untuk meredakan ketegangan".

7. Bila tertangkap basah berpura-pura sakit di kotak pinalti lawan.
"Ajaib..rasa sakit saya bisa menghilang sekejap saja...."

8.Bila dibangkucadangkan pada pertandingan penting.
"Saya harus melihat dan menganalisa pertandingan ini dari pinggir lapangan, karena saya berada di luar lapangan maka otomatis jangkauan saya melihat pola permainan lawan lebih luas daripada mereka yang sedang bermain, maka saya akan memberi petunjuk kepada teman-teman, bagaimana strategi yang
tepat untuk mengalahkan lawan."

9. Bila bermain jelek.
"Kami tidak bermain jelek, merekalah pengamat yang tidak mengerti pola permainan kami".

10. Bila tersisih di ronde awal.
"Lawan-lawan kami bermain curang, mereka memiliki wasit dan penjaga garis yang bisa dibeli".

11. Bila pendukung teamnya berbuat rusuh.
"Pendukung team lawan berusaha memancing amarah pendukung kami, jadi jangan salahkan mereka bila mereka menjadi beringas".

12. Bila terjadi perpecahan dalam team.
"Tidak ada perpecahan di kesebelasan kami. Hanya perbedaan sedikit pendapat saja, bagaimanapun juga kami tetap kompak dan bersatu di bawah komando pelatih".

13. Bila dijauhi banyak pendukungnya.
"Mereka yang tidak mendukung kami lagi hanyalah segelintir orang saja".

14. Bila tertangkap basah menggunakan obat-obatan.
"Ada pihak yang telah membohongi saya, mereka bilang ini obat untuk menyembuhkan penyakit batuk saya".

15. Bila dipecat dari teamnya.
"Saya ingin beristirahat untuk jangka waktu tertentu".

Pola Evolusi Mahasiswa


Manusia selalu berubah. Seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman yang didapatkan, serta perubahan lingkungan, manusia selalu membuat perubahan-perubahan dalam hidupnya agar lebih baik. Salah satu tahap dalam hidup manusia yang penuh dengan perubahan adalah saat mereka kuliah. Selain jadwal yang selalu berubah setiap semesternya, mahasiswa pun berevolusi, seiring dengan lamanya mereka berada di kampus. Pola evolusi yang paling umum diikuti oleh para mahasiswa di Indonesia. Inilah dia :

Tingkat 1 

Pas tingkat 1, biasanya mahasiswa masih adaptasi sama lingkungan dan orang-orang baru, biasanya pakaiannya lumayan rapih, biar pencitraannya bagus gitu, apalagi di hadapan lawan jenis. Dan karena ketemu temen-temen baru, masih suka jaim, belom ketauan belang-belangnya. Tingkat 1 adalah waktu untuk membangun pencitraan.
Kalo soal kuliah, biasanya masih semangat-semangatnya. Semua buku dibawa, dari buku wajib (yang asli impor, harganya 500 ribu), buku suplemen dari perpus, catetan, dan laptop. Kalo ada asistensi/tutor/lab jam 7 malem pun pasti dijabanin. Tugas? Pastinya dikerjain banget!

Tingkat 2 

Di tingkat 2 ini biasanya lagi betah-betahnya di kampus, tapi bukan buat kuliah. Setelah mengerti trik-trik ampuh titip absen dan cabut kuliah, anak-anak tingkat 2 ini mulai menyadari kalo kuliah cuma masuk kelas doang itu nggak asik. Mereka mulai aktif di organisasi, ikut kepanitiaan acara ini itu, gabung di perkumpulan mahasiswa, masuk klub olahraga kampus, ikut seminar dll.
Biasanya mereka dateng pagi ke kampus. Terus setor muka sama absen di kelas sebentar, abis itu mulai sibuk rapat, team building, seminar ini itu. Penampilan juga udah nggak serapih tingkat 1. Udah mulai akrab sama temen-temen baru, gebetan juga udah dapet, jadi mulai cuek. Biasanya ke kampus pake kaos yang ada logo universitasnya gitu.

Tingkat 3

Di tingkat 3, biasanya udah jarang keliatan di kampus. Bukan karena bolos, tapi jadwal kuliah biasanya udah nggak sepadet 2 tahun pertama. Kalo dulu bisa tiap hari masuk, sekarang bisa cuma 3-4 hari ada kelas. Akibatnya, pas tingkat 3 ini jadi lebih sering jalan-jalan ama seneng-seneng ketimbang kuliah. Karena itu, biasanya pakaiannya lebih cocok buat ke mall daripada ke kampus.
Karena jadwal yang lowong ini, masuk kelas biasanya cuma selewat aja. Anak tingkat 3 dateng pagi/siang pas ada kelas, abis selese kelasnya langsung cabut ke tempat lain. Kepanitiaan dan organisasi juga udah nggak se-intense tingkat 2. Karena udah senior, jabatan yang dipegang juga lebih tinggi. Jadi kerjaannya udah nggak ribet waktu masih jadi staf biasa.

Tingkat 4

Tingkat 4 identik dengan skripsi atau tugas akhir. Dan segala aspek kehidupan mahasiswa di tingkat 4 ini, semuanya dipusatkan ke skripsi tersebut. Walaupun kelas tinggal 1 atau bahkan enggak ada, mereka tiap hari nongol di kampus, entah ngetik di perpustakaan ditemani dengan 2 buku yang dibuka plus beberapa fotokopian jurnal atau ngejar-ngejar dosen pembimbing.
Gizi mahasiswa tingkat 4 ini biasanya juga buruk, karena stress mikirin skripsi. Muka-mukanya biasanya beler gara-gara kurang tidur ato bete gara-gara skripsinya abis diacak-acak sama dosen pembimbing. Mahasiswa tingkat 4 juga biasanya nggak punya kehidupan sosial yang aktif.

Tingkat 5 (dan seterusnya)

Kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Di dunia kuliah pun sama. Setelah 4 tahun berjuang keras supaya bisa lulus cepet, ternyata ada aja hal yang bisa menghalangi. Dari ada kelas yang nyangkut, atau dosen pembimbing sensi sama kita, jadinya nggak dilulus-lulusin. Dengan terpaksa, ada beberapa mahasiswa yang harus berevolusi ke mahasiswa semester 9 (dan seterusnya)
Jenis yang satu ini banyak ragamnya. Ada yang makin jarang ke kampus karena sibuk sama kerjaan lain (atau udah bodo amat sama kuliahan). Ada yang masih rajin ke kampus karena masih banyak kelas yang belom lulus. Ada juga yang nyangkut di perpustakaan, berusaha keras buat nyelesein tugas akhir yang susahnya setengah mati. Ada juga yang gak jelas ngapain, tapi tiap hari ke kampus, dianggap tetua, trus hobinya gangguin anak-anak tingkat 1. Walaupun jenis ini beraneka ragam, mereka punya sebuah kesamaan, yaitu sebuah alergi pada 2 kata : "Kapan lulus ?"
Sumber : mbdc

Jumat, 12 Oktober 2012

Makna Dari Topi Toga



Dari sisi desain bentuknya memang tidak ada keren-kerennya.
Tapi jika dipakai di hari wisuda,langsung nge-boost rasa bangga berkali lipat!!
Yaa.. itulah TOGA,jubah berwarna hitam ini memang tidak bisa dipisahkan dari acara lulus-lulusan.
Meski bentuk TOGA cukup sederhana,tapi ternyata kaya akan makna tuh…

ASAL MUASAL
Toga berasal dari tego,yg dalam bahasa Latin berarti penutup.Meski sering dikaitkan dengan bangsa Romawi kuno,toga sebenarnya merupakan pakaian yang sering dikenakan bangsa Etruskan(pribumi Italia) sejak 1.200 SM.

Kala itu,bentuk toga belum berupa jubah jubah,tapi hanya kain sepanjang 6 meter yg cara pakainya dililit ke tubuh.Meski ribet,toga merupakan satu-satunya pakaian yg dianggap pantas saat seseorang berada diluar ruangan.

Namun,seiring berjalannya waktu,pemakaian toga untuk busana sehari-hari mulai ditinggalkan.Tapi ga berarti toga lenyap begitu saja. Setelah bentuknya "dimodifikasi" jadi semacam jubah,derajat toga justru naik menjadi pakaian seremonial,salah satunya wisuda



MENYIBAK KEGELAPAN
Bukan tanpa alasan,toga berwarna hitam.Seperti yg kita tahu,hitam sering diidentikkan dgn hal yg misterius dan gelap.Nah,misteri dan kegelapan inilah yg harus dikalahkan sarjana.Dengan memakai warna hitam,diharapkan para sarjana mampu menyibak kegelapan dgn ilmu pengetahuan yg selama ini didapat.

Warna hitam juga melambangkan keagungan-karena itu, selain sarjana,hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna ini sebagai jubahnya.

Lalu,apa makna bentuk persegi pada topi toga? Well,sudut-sudut tersebut melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional dan memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai status sudah sarjana tapi pikirannya masih sempit,hehe

KUNCIR LAMBANG OTAK
Dipuncak acara wisuda,kita mungkin bertanya-tanya,kenapa ya kuncir tali di topi toga dipindah dari kiri ke kanan?

Kuncir tali toga yg semula berada dikiri ternyata bermakna lebih banyaknya otak kiri yg digunakan semasa kuliah.Nah,dgn dipindah kekanan,maksudnya agar para sarjana ga hanya menggunakan otak kiri saja setelah lulus,namun juga otak kanan yang berhubungan dgn kreativitas,imajinasi,dan inovasi.

Filosofi lainnya,kuncir tali di topi toga melambangkan tali pita pembatas buku.Dengan pindah tali,diharapkan para wisudawan terus membuka lembaran buku supaya ilmunya ga stagnan. Mentang-mentang udah sarjana,ga lantas berhenti belajar donk.

Sumber: Merdeka.com 


Selasa, 02 Oktober 2012

Surat Cinta Anak IPA VS IPS




Surat cintanya anak IPA
===========================

Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet
yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2
Ah tak sebanding dengan momen cintaku


Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa
maksimum
Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro...

Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat
aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak
terbatas

Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan
gaya
Energi kinetik cintaku = -mv~
Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
hukum kekekalan di antara kita

Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya

Inilah resultan momentum cinta kita...

=====================
Surat cinta anak IPS
=====================

Dengan hormat,
Hal : Penawaran
Kesepakatan

Saya sangat gembira memberitahukan Anda bahwa saya
telah jatuh cinta kepada Anda terhitung tanggal 17
April 2003.

Berdasarkan rapat keluarga kami tanggal 15 Mei lalu
pukul 19.00 WIB, saya berketetapan hati untuk
menawarkan diri sebagai kekasih Anda yang prospektif.

Hubungan cinta kita akan menjalin masa percobaan
minimal 3 bulan sebelum memasuki tahap permanen.

Tentu saja, setelah masa percobaan usai, akan diadakan
terlebih dahulu on the job training secara intensif
dan
berkelanjutan. Dan kemudian, setiap tiga bulan
selanjutnya akan diadakan juga evaluasi performa kerja
yang bisa menuju pada pemberian kenaikan status dari
kekasih menjadi pasangan hidup.

Biaya yang dikeluarkan untuk kerumah makan dan
shooping akan dibagi 2 sama rata antara kedua belah
pihak. Selanjutnya didasarkan pada performa dan
kinerja Anda, tidak tertutup kemungkinan bahwa saya
akan menanggung bagian yang lebih besar pengeluaran
total.

Akan tetapi, saya cukup bijaksana dan mampu menilai,
jumlah dan bentuk pengeluaran yang Anda keluarkan
nantinya.

Saya dengan segala kerendahan hati meminta Anda untuk
menjawab penawaran ini dalam waktu 30 hari
terhitung tanggal penerimaansurat. Lewat dari tanggal
tersebut, penawaran ini akan dibatalkan tanpa
pemberitahuan lebih lanjut, dan tentu saja saya akan
beralih dan mempertimbangkan kandidat lain.

Saya akan sangat berterimah kasih apabila Anda
berkenan untuk meneruskan surat ini kepada adik
perempuan, sepupu bahkan teman dekat anda, apabila
Anda menolak penawaran ini.

Demikian penawaran yang dapat saya ajukan dan
sebelumnya terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,

Bakal calon pasanganmu

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3124267

Kamis, 27 September 2012

KAPURUNG ( Traditional Food From Luwu Land )


Bagi masyarakat Luwu kapurung adalah makanan khas tradisional dan sudah menjadi tradisi turun temurun sebagai hidangan yang wajib dihidangkan, Cita rasa asem pedasnya yang nikmat menjadikan kapurung sebagai sajian primadona. Tidak hanya masyarakat Luwu tapi masyarakat di berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan daerah lainnya juga menggemari makanan ini.

Bahan dasar kapurung tentunya adalah Tabaro (sagu) ditambah dengan aneka jenis sayuran dan ikan atau daging ayam. Untuk membuatnya tambahkan garam (sesuai selera) ke adonan sagu dan dicampur dengan air panas, diamkan sebentar kemudian di aduk hingga adonan sagu mengental. Kemudian adonan sagu yang mengental dibentuk menjadi bulatan kecil menggunakan sumpit/lidi ( Baca: Ma'dui ). Untuk hidangan kuahnya sendiri segala jenis sayuran dan ikan/daging dipotong-potong kecil kemudian di masak dalam wadah hingga mendidih kemudian campurkan ke adonan sagu yang telah dibentuk bulat tadi dan aduk hingga campuran merata. Kapurung pun siap dihidangkan.

Selamat Menikmati...   

Sejarah Perjalanan Kota Belopa


Labelopa, demikian penduduk setempat menyebut nama kota Belopa sampai pertengahan tahun enampuluhan yang sekarang menjadi Belopa, ‘La’-nya sudah sirna ditelan perjalanan masa.

Kota Belopa ini diresmikan menjadi ibu kota kabupaten Luwu pada tanggal 13-2-2004 silam. Hal penetapan ini diresmikan gubernur Sulawesi Selatan H.M Amin Syam. Kejadian ini sekaligus dirangkaikan pelantikan bupati baru Luwu pada saat itu, Basmin Mattayang, menggatikan Dr Kamrul Kasim yang berakhir masa jabatannya.

Setelah tentara nasional, TNI meninggalkan Luwu Selatan pada pertengahan tahun limapuluhan, kawasan ini dikuasai oleh DI/TII yang dipimpin oleh Abdul Qahar Mudzakkar. Pada akhir tahun lima puluh, tentara nasional kembali memduduki regio selatan Luwu ini dengan menduduki kota-kota kecil Belopa, Bajo, Cimpu dan Suli. Kemudian dua tahun setelah itu, selanjunya mereka menduduki Larompong.

Ketika tentara nasional mengosongkan kawasan selatan Luwu, rakyat memilih bebas menentukan pilihan. Memilih dua jalan, akan tinggal ditempat atau ikut bersama dengan tentara
nasional meninggalkan regio Selatan Luwu ke kota Palopo dan sekitarnya.

Rakyat yang memilih tidak ikut dengan tentara nasional saat dikosongkannya kawasan selatan Luwu pada waktu itu, otomatis bergabung dengan rakyat TII. Yang menguasai kawasan Luwu diluar kota Palopo. Dan malahan menguasai hampir seluruh pedalaman Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Saat tentara nasional menduduki Belopa, rakyat yang ikut ke Palopo pada saat pengosongan, diangkut kembali ke kampung halaman mereka. Mengikuti tentara yang menduduki kota-kota yang disebutkan diatas.

Mereka serta merta memulai hidup baru dengan berusaha mengatur penghidupan mereka dari titik nol. Penulis mengatakan titik nol, karena tempat yang didatangi ini, dapat dikatakan kosong, tidak ada rumah.

Ketika mereka kembali ke Belopa dan kawasan selatan dari kota Palopo dan sekitarnya, mereka diangkut melalui jalan laut, dengan kapal dan pengangkutan militer yang dikenal pada saat itu dengan nama ‘landen’.

Landen inilah yang menonda perahu-perahu yang memuat penduduk, ulak-alik antara Palopo dengan Ulo-Ulo. Ulo-Ulo ini adalah satu-satu pelabuhan pendaran dari seluruh rakyat yang kembali ke kawasan Selatan.

Mengapa mesti melalui jalan laut, pada hal jalan darat hanya lima puluhan kilo meter dari Palopo ke Belopa. Hal ini dapat dan mudah dimaklumi, karena hubungan darat, terputus. Jalan raya yang menghubungkan dari Palopo ke Makassar terputus. Semua jembatan, besinya terendam dalam air sungai, dirusak DI/TII dan badan jalanan poros jalanan ini, pada tempat tertentu digali. Sehingga untuk melalui jalan darat harus berjalan kaki.

Tetapi untuk jalan kaki, tentara nasional sudah memperhitungkan resiko, bahaya dan maut yang menghadang mereka kalau hal ini dilakukan. Apa lagi membawa rakyat yang mungkin ribuan orang jumlahnya, jadi bukan pilihan yang tepat.

Dalam perjalanan, sudah dapat dipastikan akan disergap oleh anggota DI/TII  yang menguasai kawasan ini, mulai dari Balambang sampai ke wilaya Kabupaten Wajo.

Langka pertama yang mereka lakukan dikampung halaman mereka setelah mereka tiba, adalah membangun rumah. Rumah yang dibangun ditempatkan dalam lingkupan yang di kelilingi oleh benteng dan pos-pos TNI.

Khusus di Belopa, ditempatkan pos dipinggiran perumahan penduduk. Misalnya di Balimbing Belopa dua, Radda, disebelah Selatan jembatan Belopa kearah Senga, di Pabburinti arah utara dan titik-titik tertentu yang dianggap rawan dari sergapan DI/TII.

Selain dari membangun rumah, tentara nasional bekerja sama dengan rakyat sesegera mungkin membangun gedung-gedung sekolah ditempat-tempat bekas tempat sekolah rakyat, sebelum Belopa dan kota kecil lainnya ditinggalkan dahulu. Sebelum dikosongkan karena pemerintah menarik tentaranya. Untuk ditempatkan kedaerah lain yang rawan dari pemberontakan.

Karena pemberontakan PRRI-Permesta di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi-Utara dan DII di Jawa-Barat yang mesti ditumpas habis. Dengan demikian pemerintah membutuhkan banyak tentara dan memprioritaskan menumpas yang lain lebih dahulu dari pada DI/TII dari Kahar Mudzakkar.

Waktu itu, penulis masih mengingat beberapa sekolah rakyat atau SR. Begitulah nama dari sekolah dasar atau SD sekarang. Sekolah rakyat yang ada di Belopa dua berdekatan, sebelah selatan jembatan Belopa, sebelah Timur jalan raya.

Kemudian disusul SR lainnya kejurusan Bajo. Kemudian di Bajo juga sudah dibangun sekolah rakyat. Hampir bersamaan waktunya dibangun juga sekolah rakyat di Cimpu.

Selain dari pada itu, didirikan pula satu sekolah menengah pertama SMP, yang kemudian menjadi sekolah menengah pertama negeri Belopa. Tempat berdiri gedungnya di Pabburinti. Didekat jembatan Pabburinti, sebelah Timur jalanan. SMP negeri Belopa inilah, merupakan sekolah menengah pertama, yang pertama hadir disebelah selatan Kabupaten Luwu waktu itu.

Pada masa itu, untuk kegiatan jual-beli kebutuhan masyarakat diadakan pasar dipinggir jalan, sedikit sebelah sebelah utara dari pasar centeral Belopa sekarang.

Untuk mengatur roda pemerintahan, berdiri kantor yang pada mulanya bernama kantor kondinator pemerintahan, yang kemudian menjadi kantor kecamatan, yang berdiri dipinggir lapangan, sebelah Barat lapangan sepak bola Belopa.

Pada tahun 1962, rakyat dari DI/TII mulai berbaur dengan rakyat kota, istilah dari dari rakyat yang ikut dengan tentara yang kembali menduduki kota-kota kecil. Pada awal-awal pembauran dua kelompok penduduk dalam masyarakat, memunculkan istilah ‘Rakyat kota dan Rakyat Hutan’.

Dua istilah ini merupakan cemohan satu dengan lainnya. Tetapi perjalanan masa, dalam waktu beberapa bulan saja, istilah ini akhirnya sirna ibarat embun ditelan panas.

Beberapa tahun kemudian bermuculan beberapa sekolah menengah pertama yang bernama SMI (sekolah menengah Islam) yang berstatus swasta untuk menampung murid sekolah rakyat yang tammat yang tidak dapat diterima dan ditampung di SMP negeri.

Pertengahan tahun enam puluh berdiri juga SMAN, sekolah menengah atas negeri Belopa yang pertama. Sekolah ini berlokasi disebelah selatan musallah jususan ke Senga, sebelah barat jalan raya.

Begitulah akhirnya perjalanan masa Belopa ibu kota kecamatan Bajo ini mekar dan membesar, sehingga menjadi ibu kota kabupaten Luwu, setelah Luwu dimekarkan menjadi empat Kabupaten dan kota, malah kelak mungkin menjadi lima kabapaten, termasuk Luwu Tengah.

Oleh: Hamus Rippin

Sosok Raja Sawerigading

Sawerigading






Sawerigading adalah tokoh utama dalam naskah la galigo meskipun bukan sebagai tokoh yang paling banyak berperan dalam pengisi alur dari awal sampai akhir dalam epos la galigo. Tetapi Sawerigading lah awal dari segala penyebab terjadinya semua peristiwa dan kejadian dalam epos la galigo.

Berdasarkan silsilah menerangkan bahwa Sawerigading adalah Cucu dari bataraguru yang mempunyai nama asli la togeq langiq penguasa bumi Sedangkan Nenek Sawerigading berasal dari kerajaan Buriq Liu (Kerajaan Bawah Laut/Air) Ketika Batara guru pertama kali Turun Ke bumi ia ditempatkan di atas bambu Betung nah dari sinilah asal muasal Nama Sawerigading yang dimana terdiri dari 2 kosa Kata yakni Sawe dan Ri Gading yang dimana Sawe Artinya Menetas Dan Ri Gading yang artinya Di atas bambu betung. jadi Arti Sawerigading yakni Keturunan Dari Orang Yang menetas diatas Bambu Betung. Kemudian Bataraguru mempunyai anak yang bernama Batara Lattuq yakni Bapak Sawerigading yang selanjutnya menjadi Cikal bakal Raja-raja Dibumi (kerajaan luwuq/bugis)
Nama-nama lain Sawerigading yang sering muncul dalam Epos La Galigo yakni, To Appanyompa (Orang yang disembah), La Maddukelleng, Langiq paewang (sang penggoyah langit), Pamadeng lette (Pemadam halilintar), Sawe Ri sompa (Keturunan Orang yang disembah), La Pura Eloq (Orang Yang tak terbantahkan kemauannya), La Datu Lolo (Raja Muda), La Oro Kelling (Orang Oro kelling), La Tenritappuq (orang yang tak terkalahkan)
Karena itu dalam diri Sawerigading memiliki darah murni sang dewata sebagai perpaduan antara Dewa Langit (Binting Langiq) dan Dewa bawah laut (Buriq Liu) yang ditempatkan di bumi sebagai penguasa. Karena anak dewa ini telah menjelma menjadi manusia maka seluruh kegiatannya dimuka bumi dilakukan dalam bentuk kehidupan manusia secara normal. Dengan demikian seorang tokoh Sawerigading mempunyai dua Sifat yakni Sifat nya sebagai anak dewa yang memiliki kemahakuasaan dan sifat kemanusiaannya yang nampak dalam aktifitas kesehariannya sebagai manusia
Bagaimana Seorang anak dewa yang menghidupkan Orang-orangyang yang telah Mati setelah selesai berperang hanya dengan sesajen dan setuhan dari keris Sawerigading, Mendatangkan dan menghentikan amukan alam yang sangat ganas hanya dengan telunjuk Sawerigading, Sawerigading mampu berkomunikasi dengan binatang seperti halnya Sawerigading berkomunikasi dengan seekor Burung yang bernama La Dunru yang menyuruhnya menyampaikan pesan ke We Tenriabeng untuk naik ke botting Langiq untuk melaksanakan pernikahannya. Semua kejadian-kejadian tersebut membuktikan kebesaran dan kemahakuasaan Sawerigading dalam keturunan Dewa. Itulah sebabnya ia diberikan gelar Pamadeng Lette (Sang Pemadam Halilintar), Langiq Paewang (Sang Penggoyah Langit).
Karena Sawerigading telah menjelma sebagai manusia di bumi, maka ia tak lebih dari manusia-manusia lainnya yang berada di bumi yang dimana mempunyai kekurangan-kekuarangan sebagai manusia bumi. Bukti kemanusiaan Sawerigading ketika pada peperangan yang membuat sawerigading meminta bantuan kepada penguasa langit yang dimana Remmang ri langiq suami dari We Tenriabeng turun kebumi untuk membantu sawerigading untuk berperang saat Remmang ri langiq tiba di bumi, ia langsung memerintahkan Sawerigading untuk menyembah Remmang ri langiq sebanyak tiga kali sebagai bukti kemanusiaan sawerigading dengan pengakuan eksistensi kedewaan Remmang ri langiq.
Sawerigading merupakan sosok manusia bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda yakni cinta dan dendam, benci dan saying, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dank eras sejauh mana sifat tersebut mengejawantan dari pribadi sawerigading, bergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar ia tidak menerima kompromi hanya ada dua pilihan hitam atau putih
Karena itu, gambaran tentang sawerigading tidaklah sesempurnah dengan tokoh-tokoh pangeran yang seperti kita dengar sebelumnya. Kadang-kadang ia sangatlah cengeng sampai menangis terisak-isak lalu ia ditergur oleh pengawalnya agar ia berhenti dan tegap menghadapi kenyataan hidup dengan tegar. Hal seperti ini dapat dilihat ketika cinta sawerigading kepada adik kembarnya we tenriabeng ditolak oleh dewan adapt. Sawerigading juga memiliki sifat yang mudah tersinggung, emosianal, dan sering mengamuk sambil bembabi buta bila perasaan atau sirinya tampa mempertimbangkan resikonya.
Namun sebagai seorang pangeran ia juga memiliki sifat kejantanan dan keperkasaan. Sebagai putra bangsawan sawerigading seorang tokoh yang besar sebagai salah satu tanda kebesaran sawerigading ia selalu menggunakan pakaian kebesaran raja yang semua terbuat dari emas, berupa paying kebesaran yang terbuat dari emas, cincin emas yang semuanya rutun dari langit yang dibawah oleh leluhurnya, dipinggangnya selalu melekat keris emas sebagai symbol keberanian dan kejantangannya.

Ada 4 sifat yang melekat pada Diri Sawerigading yakni
1. Getteng (Teguh pendirian)
2. Warani (Berani)
3. Lempuq (Jujur)
4. Macca (Pintar)
Ketegukan Sawerigading dalam mempertahankan Prinsipnya sangat lah kuat ini dilihat ketika berbagai cobaan dan godaan yang dating tidak menggetarkan semangatnya untuk tetap menggulung layer perahunya sebelum sampai di tujuannya. Godaan-godaan tersebut bukannya menyulutkan hati Sawerigading untuk pergi ke cina malahan cobaan-cobaan tersebutlah yang semakin membakar semangatnya untuk mencari cina. Maka dari itu Sawerigading juga dipanggil dengan sebutan La mampuara Elo (Orang yang tek terbantahkan). Untuk mempertahankan sifat Getteng (Teguh pendirian) harus dibarengi sifat Keberanian nya juga. Keberanian Sawerigading tertantang ketika Sewerigading dihadapkan oleh dua ancaman yakni Ancaman dalam dirinya sendiri dan kekuatan yang berasal dari luar diri manusia ketika iya dihadapkan bujukan, rayuan dan sesuatu yang mempesona yang dapat menlonggarkan dan melepaskan prinsip hidupnya. Disini membutuhkan keberanian moral yang luar biasa ketika mempertahankan yang mana dianggap benar dan dianggapnya salah
Keteguhan dan keberaniannya Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh sawerigading melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaannya, maupun perasaan lain yang seharusnya di pendalam dalam hati. karena itu sifat teguh dan keberaniannyahanya dapat bila diiringi dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak.
Kejujuran yang dimaksudkan bukan saja jujur sesame manusia tetapi juga kepada diri sendiri dan kepada Dewa. Kejujuran Sawerigading terlihat saat Sawerigading berterus terang dan terbuka kepada pengawal-pengawalnya dan musuh-musuhnya. Kejujuran yang paling dramatis dalam kisah Sawerigading dalam epos la galigo yakni ketika sawerigading tidak berdaya melawan perasaan cintanya kepada saudara kembarnya yakni we tenriabeng. Sawerigading harus mengungkapkannya walaupun ia mengetahui resikonya sangatlah berat.
Peran Sawerigading sebagai tokoh magis terlihat saat para pasukan sawerigading kewalahan menghadapi pasukan-pasukan la tenrinyiwiq, sawerigading tumpuan terakhir dari mereka agar kiranya memohon kepada dewa untuk menurunkan bantuan di dunia dalam waktu sekejap bantuan itu turun dari langit dan menghancurkan pasukan-pasukan la tenrinyiwiq. Sedangkan peran Sawerigading sebagai seorang keturunan dewa ketika Sawerigading menghidupkan pasukan-pasukannya yang mati dalam peperangan, mendatangkan dan memberhentikan bencana yang dibuat oleh alam dan dapat berbicara kepada binatang-binatang
Peran Sawerigading sebagai raja terlihat ketika tahluknya para pengawal dan pasukan-pasukan sawerigading dalam perintahnya dialah penentu kebijaksanaan diatas perahu yang dikendarainya untuk mencari cina. Memerintah dan menjalankan tradisi kekuasaan yang diwarisi oleh leluhurnya.
Meskipun demikian Sawerigading bukannya seorang raja yang otoriter, segala sesuatu yang berhubungan dengan operasinalisasi kekuasaan dan pelaksanaan kerajaan dilimpahkan kepada para pembantu-pembantuhnya. Sawerigading adalah Seorang raja yang besar dan tak tertandingi, perahunya besar dan banyak perahu-perahu kecil yang mengiringinya,pasukan yang ribuan sebagai bukti akan kekuasaannya. Tujuh kali pasukan Sawerigading berperang dalam pencarian tanah cina enam pimpinan musuhnya semua mati dan kepalanya digantung diperahu sawerigading sebagai tandak keperkasaannya menumpas musuh.